Langsung ke konten utama

Perihal siap dan tidak siap

Aku selalu mengingat kalimat yang dilontarkan oleh sahabatku, "Sampai kapanpun, jika ditanya siap atau tidak siap untuk menikah, sepertinya kita ngga akan siap".

Ucapan sahabatku itu cukup melekat di ingatkanku. Benar sekali, sampai kapanpun sepertinya aku tidak akan siap dengan yang namanya kehidupan pernikahan. Tetapi yang perlu digarisbawahi, kita tidak akan pernah siap untuk menikah jika kita memakai indikator orang lain. Ketika aku sedang dibersamai oleh seseorang, yang aku lihat saat ini adalah apakah orang ini bisa aku harapkan menjadi partnerku melalui segala jenis keadaan di dalam dunia pernikahan?

Bagiku, tahapan "menyeleksi" pasangan itu yang sangat panjang. Oleh karena itu, batasan 'siap' ini adalah batasan yang menggunakan indikatorku sendiri. Bagiku siap untuk menikah itu ngga harus bisa masak, yang penting aku bisa belajar masak karena calonku seharusnya yang mengkondisikan ini. Bagiku, siap menikah itu ngga harus dengan seseorang yang memiliki pekerjaan tetap. Karena bagiku adalah apakah ia memiliki mental pejuang dan tidak pemalas. Tetapi, bagi indikator atau standar orang lain pastilah berbeda dengan indikator yang aku punya.

Tapi tidak masalah, karena kenyataannya adalah kita berangkat dari kondisi latar belakang yang tidak sama, yang berbeda-beda. Inilah mengapa "mengenal diri" adalah hal yang krusial menurutku. Menurutku, akan sulit sekali menjalani pernikahan jika kita sendiri tidak mengetahui kebutuhan kita dalam pernikahan, apa yang akan kita kerjakan ke depannya, tujuan kita, dsb.

Tidak ada label harga untuk keluarga yang bahagia. Jadi, jangan pernah takut untuk bersama seseorang yang sedang berproses. Menikahlah dengan seseorang yang mau menghubungimu kembali setelah bertengkar hebat dan menyelesaikan masalah kembali, mengingatkan kepadamu betapa sulitnya keadaan nanti, ia tidak akan meninggalkanmu. Menemukan orang yang tepat itu tidak bisa buru-buru. Kadang perlu proses yang panjang sampai akhirnya bertemu sosok yang pantas untuk bersama. Bukan karena tidak ada pilihan lagi, tetapi memang terpilih untuk bersama. Pilihlah seseorang yang baik hatinya apapun status ekonominya. Dalam kehidupan berumah tangga nanti mungkin kamu akan memahami bahwa rumah yang megah beserta isinya dan kemewahan lainnya hanyalah bonus dalam kehidupanmu.

Selain itu, hal yang cukup penting untuk disiapkan menurutku adalah kesehatan mental dan emosional. Karena menikah itu 99% isinya adalah interaksi. Interaksi dengan sosok baru yang lahir dan tumbuh di lingkungan yang berbeda dengan kita. Pola pikirnya berbeda, cara menyikapi sesuatu, bahkan cara menyelesaikan masalah tentu berbeda dengan pemikiran kita.

Kalau emosi kita masih belum stabil, kalau kita masih sering marah karena hal sepele, sering ngambek dan memperkeruh suasana, hal itu akan menjadi PR besar dalam pernikahan nantinya.

Kita harus belajar untuk lebih sehat secara emosional. Melepaskan diri dari kebiasaan negatif. Melepaskan diri dari inner child yang mungkin menjadi faktor terbesar dalam kestabilan emosi. Kita bisa mulai belajar dengan latihan menjaga interaksi yang baik dengan keluarga, sahabat, ataupun orang lain.

Selamat berproses <3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Things to know before getting married

Pernikahan bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat, tetapi bagaimana kalian berdua tetap menjadi orang yang tepat untuk satu sama lain. Ketika sudah memilih satu sama lain menjadi pasangan hidup, berkomitmenlah untuk terus saling tumbuh. Apabila salah satu berhenti belajar dan berhenti memberikan effort satu sama lain, kualitas pernikahan akan menjadi tidak sehat dan menjadi renggang. Saling interopeksi. Saling mempelajari karakter dan kebiasaan satu sama lain. Saling kompromi. Dari ketika masih sendiri, biasakan untuk senang belajar, senang upgrade diri sendiri, tunggu dan pilih pasangan yang bisa diajak belajar dan bertumbuh bersama. Libatkan Tuhan di tengah hubungan kalian, kalian berdua ngga akan bisa make it tanpa Tuhan. Cari pria yang takut dengan Tuhan, yang paham dengan agama. Tidak perlu sampai ahli agama, tetapi setidaknya dia tahu bagaimana dia akan menjadi seorang suami dan ayah kelak. Bisa memuliakan istri, menghargai hubungan mereka berdua, dan bertanggung jawa...

Never ending crisis

Lagi-lagi dengan quarter life crisis,  belum lagi ketambahan menjadi sandwich generation. Ada orang yang berpikir kalau seseorang dikatakan terlambat karena... "di umur yang sudah menginjak 25 tahun, seseorang masih luntang lantung mencari kerja. padahal di usia tersebut banyak yang sudah bekerja di perusahaan besar" "teman-teman sudah banyak yang mengambil S2 bahkan S3, tetapi seseorang masih berjuang untuk bisa menyelesaikan sidang skripsi" "masuk kepala 3 tetapi masih belum berkeluarga, disaat yang lain sudah menimang anak kedua bahkan ketiga" Meanwhile.. Seseorang lulus kuliah di umur 22 tahun, tetapi dirinya perlu menunggu 5 tahun dulu untuk bisa memiliki pekerjaan yang secure untuk dirinya Seseorang menjadi CEO di umur 25 tahun, dan meninggal di umur 50 tahun. Sedangkan ada yang lainnya lagi menjadi CEO di umur 50 tahun dan meninggal di umur 90 tahun Obama pensiun diumurnya 45 tahun, dan Donald Trump baru memulai kesuksesannya di umurnya 70 tahun Se...

Anak Perempuan Pertama

Anak perempuan pertama mana suaranya??? Mau kasih apresiasi buat para anak perempuan pertama di luar sana. Karena jadi mereka itu pilihannya cuma dua; jadi kuat, atau pura-pura kuat. Jadi anak perempuan pertama itu harus serba bisa dan serba dewasa. Dari kecil udah dididik harus ngalah sama adik-adiknya, pas udah dewasa pun bebannya paling berat buat menuhin ekspektasi orang tua. Inget ya, anak pertama itu juga manusia. Mereka juga butuh cinta dan apresiasi. Mungkin mereka ga pernah minta, tapi gaada salahnya kalau kalian sebagai keluarganya yang peka lebih dulu. Untuk anak perempuan pertama, semangat terus ya buat mengejar mimpi-mimpi kalian. Pasti bahunya capek ya? beban seisi rumah rasanya ada di kalian semua. Tapi yakin deh, yang dilakkan dengan ikhlas pasti ada balasannya. Dan percaya, ketika kalian punya itikad baik untuk keluarga; membahagiakan orang tua dan adik-adik, akan ada rejeki berlimpah datang. Bisa aja soal karir, jodoh, bahkan minimal kalian dikelilingi orang-orang bai...